Jujur, aku ngak tau how depression really feels like, dan jangan sampe.
Tapi beberapa hari ini, aku bener-bener dihadapkan dg mental breakdown dan mood swing yang parah. Rasanya isi kepalaku terus-terusan dipenuhi pemikiran yg jelek, meratapi hidup, losing my mom, cant get married, hidup yg hanya gini” aja terus.Setiap malam sebelum tidur kepala berisik banget, setiap bangun badan rasanya berat, dan hanya pgn merem terus dan gk pengen membuka mata lagi. Ujungnya, aku cuma bisa pelarian ke game semalaman suntuk dan itu gk produktif akhirnya setelah main pun aku ngerasa bersalah dan menambah beban.
Aku ngerasa jadi seseorang yg mempunyai mental victim dan playing victim terus, tapi gimana nggak? Aku ini masih dalam masa berkabung atas hilangnya Ibu, tapi di saat yang sama malah ditinggalkan, disakiti, dan tidak dipedulikan oleh orang yang aku sayangi. Dan mereka merasa tidak bersalah atas tindakan itu.
Sejak Ibu nggak ada, dunia kerasa pahit dan kejam. Aku merasa selama ini Ibulah yg menjadi pelindungku, ruang amanku, tempat aku mengadu dan dialah yang melindungiku dari dunia luar. Begitu pelindungku hilang, aku dipaksa menghadapi realita dengan segala kepolosan dan kenaifanku.
Dan di titik terendah itu, aku ketemu orang2 'jahat' yg memakai topeng bahwa seakan-akan mereka baik dan peduli sama aku, tapi realitanya mereka hanya stay bcs they want something from me. Sampai akhir pun aku merasa harus mengemis-ngemis agar mendapatkan the love that I deserved tpi nggak pernah dibalas apa-apa. It hurts. So damn hurts.
But mau gimana lagi, aku harus membereskan ini semua sendiri tidak bisa berangan2 bahwa akan ada pria berkuda putih yg akan datang menyelamatkanku. Jika begitu aku gk akan bertumbuh. Dan Allah menempatkan aku disini krn pgn aku bertumbuh.
Kadang nyesek nya masih berasa, dan mindset playing victim itu mulai terputar kembali. Aku sempat mikir knp dunia ini brengsek dan nggak adil. aku sudah tulus, tapi kenapa malah dikasih balasan yang seburuk ini? apa aku diinjak-injak dan diremehkan karena aku nggak punya materi, kekuasaan, gelar, atau pencapaian. Aku sempat menyimpulkan kalau mereka tega membuang aku ya karena kondisi ekonomiku yang lagi berantakan. Dan sudah tidak punya orang tua.
Kadang nyesek nya masih berasa, dan mindset playing victim itu mulai terputar kembali. Aku sempat mikir knp dunia ini brengsek dan nggak adil. aku sudah tulus, tapi kenapa malah dikasih balasan yang seburuk ini? apa aku diinjak-injak dan diremehkan karena aku nggak punya materi, kekuasaan, gelar, atau pencapaian. Aku sempat menyimpulkan kalau mereka tega membuang aku ya karena kondisi ekonomiku yang lagi berantakan. Dan sudah tidak punya orang tua.
Tapi sekarang aku sadar. Perilaku buruk mereka yang tega ninggalin aku di saat aku terpuruk itu sama sekali bukan cerminan dari murahnya nilai diriku. Itu adalah cerminan dari kapasitas diri mereka sendiri. Mereka cuma mementingkan ambisi dan prioritas pribadi. mereka masih belum selesai dg dirinya sendiri.
Faktanya, kalo bukan aku akan ada wanita lain yg dinomorduakan spt aku, mau aku kaya atau punya segalanya pun, orang yang dasarnya egois akan tetap egois. Well, semua itu ada harga dan bebannya sendiri, dan aku ada andil dalam membiarkan semua ini terjadi, dan aku gk melimpahkan kesalahan ke mereka semua. aku mencoba merubah victims mindsetku ini, and takes responsibility for my actions.
Dan justru di dalam jurang kegelapan ini, segalanya makin diperlihatkan dengan jelas oleh Allah. Aku jadi tahu siapa saja orang yang bener-bener menolong, menyayangi, dan masih peduli denganku.
Lucunya, orang-orang yang mjd dearest people buatku malah yang tega mendorongku masuk ke jurang. Sebaliknya, orang-orang yang dulunya nggak pernah kupikirkan, teman-teman, keluarga, dan bude-budeku (teman sejati Ibuku yang datang dan menangis-nangis di kuburan ibuku) merekalah yang membantuku bangkit lagi.
Aku jadi ngerti harta berharga di dunia adalah orang-orang seperti ini. Kemarin-kemarin aku malah mengabaikan orang-orang yang bener-bener sayang sama aku, dan malah habis-habisin energi mikirin orang yang sudah ngebuang aku dan yang nggak pernah berjasa di hidupku.
Jadi kenapa aku harus menghabiskan waktu lagi melihat punggung orang yg pergi meninggalkan aku? Fokusku sekarang adalah menggenggam tangan orang-orang yang menyelamatkanku dari jurang. Dan balas dendam terbaiknya adalah fokus sukses untuk orang-orang tersayang dan fakta bahwa aku sudah nggak peduli lagi mereka mau lihat atau nggak.
Menuliskan semua pemikiran ini adalah caraku untuk pulih. Agar tali yg kusut bisa lurus kembali.dan Ini pengingat dan rem buat diriku sendiri kalau suatu saat nanti aku kalut atau tersesat lagi.

Post a Comment