You know, I notice a difference between my friends. (I dont have a problem with them, they're all still my dearest friends.) Hanya saja, ketika aku sedang punya masalah dan terluka, ada perbedaan yg bisa dinotice dalam cara mereka merespons, yang akhirnya memberikan dampak berbeda pula ke diriku.
Aku tidak akan membahas detail perkataan mereka, tapi aku bisa merasakan dampak yang kontras.
Di satu contoh, ada temanku A dan B. Mereka memberikan saran yang praktikal, cepat, mudah dipahami, dan langsung bisa diaplikasikan. Contohnya seperti, "Coba kamu chat lagi, kenapa ditunggu sampai nanti-nanti? Malah kamu yang tersiksa dan kasihan. Aku gk mau melihat kamu tersiksa terus" Apa yang mereka katakan itu Benar. Tidak ada yg salah. Aku memahami perasaan peduli mereka ke aku.
Dan terus lanjut ketika aku menceritakan keresahanku ttg duniawi seperti kenapa orang-orang bisa begitu jahat padahal aku selalu melakukan yg terbaik dg tulus dan tidak melakukan hal merugikan tapi tetap dibalas dengan tidak adil.
Mereka bilang ini semua tentang ekonomi, semua tentang uang. Orang-orang akan memandang rendah kita dan gampang meninggalkan krn sesimpel kita tidak punya power atau uang untuk disegani.
Salah satu dari mereka bahkan memberi contoh personal:
"Aku sama pasangan ku aja sekarang bisa 'nyetir'. Katakanlah kalau disuruh-suruh sekarang dia selalu mau, beda dengan dulu yang sering menggerutu dan tidak ikhlas. Kenapa? Karena dia tahu sekarang aku yang jadi breadwinner di keluarga."
"Mantan-mantanku yang dulu itu, pas melihat bisnisku sukses, mereka langsung reach out lagi dan tanya-tanya. Jadi kyk punya uang itu mengubah segalanya. Sebaliknya, tidak mempunyai uang membuat harga diri dan perasaanmu diinjak-injak. Mungkin mantanmu yang kemarin itu juga melihat sudah tidak ada manfaat yang bisa didapatkan dari kamu, makanya dia begitu mudah melepaskan."
Pemikiran seperti itu akan sangat mudah ditangkap dan dimengerti. Tapi dampaknya buruk untuk jiwaku, itu membawa pandangan yang pahit ttg hidup ke dalam hatiku. Hatiku rasanya penuh dg kepahitan, sinis dan skeptis sehingga aku tidak bisa lagi memandang orang lain dan dunia ini secara murni dan tulus. Padahal, value yang ibuku bawa sejak dulu adalah rasa ketulusan, kemurnian, kejujuran, dan mengasihi tanpa pamrih. Aku sempat hampir terbawa oleh pandangan pahit spt itu.
Di sisi lain, ada temenku si C. Ketika berbicara dengan dia, aku harus deep thinking untuk memahami sudut pandangnya. Dia memberikan advice, tapi aku harus merenungkannya dalam-dalam dan memasukkannya ke dalam diri untuk melihat apakah yang dia omongkan itu benar atau tidak. Dia membawa nilai refleksi dan selalu membawa semua balik ke Tuhan utk pertumbuhan jiwa. Dia mengajarkan utk menghadapi masalah dg bijaksana, anggun dan tetap menjaga hati yg tulus. Meskipun awalnya susah but in the end akhirnya aku bisa ngerti.
Beda dengan A dan B, Mendengarkan si C itu butuh effort and takes a lot of work, tapi dampaknya luar biasa. Aku jadi punya values yang kuat rooted deep within me, ketulusan hati, mentalitas yang kuat tpi ttp lembut, hati yg tangguh tpi ttp penuh dg cahaya, dan pemikiran yang berkualitas.
Kurang lebih, dialah yang membentuk diriku yang sekarang. yang mungkin terkesan punya kedewasaan, dan values yang tinggi. Dia membantuku menjaga kemurnian dan ketulusan hatiku. Dan yang terpenting, dia tidak membiarkan hatiku berubah pahit dan ternodai oleh dunia yang bodoh ini, dan mengajarkan spt guru bahwa tindakan ku ya tanggung jawabku, tidak boleh playing victim terus"an. We all held accountable with what happens to our life at some point.
Dari sini aku baru menyadari dua perbedaan besar itu. Memang benar lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Lingkungan tertentu akan membawa pola pikir yang tertentu pula, yang akhirnya mempengaruhi tindak tanduk kita di kehidupan nyata.
I feel so blessed by all my friends. Karena mau bagaimanapun, meskipun corak pemikiran mereka yg berbeda², mereka sangat berharga. Mereka tetap sahabat tercintaku yang proving themselves ttp ada di saat aku terpuruk. Dan kehadiran mereka adalah perhiasan yang sangat berharga di dunia yang sudah rusak dan busuk ini.
Ini menjadi reminder bagiku agar tetap menjaga kemurnian hatiku, entah apa pun badai yang terjadi di hidup dan dunia ini. Karena kemurnian hati, serta tatapan mata yang jernih tanpa penghakiman atau rasa sinis, adalah perhiasan terbesar bagiku. I will not let this rotten world take it away.
Post a Comment